Sabtu, 04-04-2026
  • Selamat Datang Di Website Madrasah Ibtidaiyah Nurul Huda Mantuil Banjarmasin

Siswa MI Nurul Huda Mantuil Sulap Limbah Jadi Permainan Balogo

Diterbitkan : - Kategori : Belajar Menarik dan aktif / Guru / Tahun Ajaran 2025/2026

BANJARMASIN – Keceriaan terpancar dari wajah siswa-siswi kelas 3B MI Nurul Huda Mantuil, Banjarmasin. Bukan karena gadget terbaru, melainkan karena mereka berhasil menghidupkan kembali permainan tradisional khas Kalimantan Selatan, Balogo, dengan sentuhan kreatif: memanfaatkan barang bekas.

Kegiatan ini merupakan bagian dari edukasi lingkungan hidup yang bertujuan untuk memperkenalkan budaya lokal sekaligus menanamkan kesadaran menjaga bumi sejak dini.

Kreativitas di Balik Limbah
Alih-alih menggunakan kayu ulin atau bahan pabrikan, para siswa diajak mengumpulkan limbah di sekitar sekolah dan rumah. Mereka menggunakan potongan papan triplek bekas, tutup botol besar, hingga plastik keras yang sudah tidak terpakai untuk dibentuk menjadi Logo (alat pemukul berbentuk segitiga atau bidak).

“Kami ingin anak-anak tahu bahwa bermain itu tidak harus mahal, dan sampah bisa menjadi barang berharga jika kita tahu cara mengolahnya,” ujar guru kelas 3B di MI Nurul Huda.

Apa Itu Balogo?
Balogo adalah salah satu permainan tradisional suku Banjar yang sangat populer di Kalimantan Selatan. Nama permainan ini diambil dari kata Logo, yaitu alat utama yang dimainkan.

Cara Bermain: Pemain menggunakan sebuah tongkat pemukul kecil yang disebut panapak atau stik untuk mencungkil logo agar meluncur dan menjatuhkan logo lawan yang dipasang berdiri.

Sejarah: Dahulu, Balogo sering dimainkan oleh orang dewasa maupun anak-anak setelah musim panen sebagai bentuk rasa syukur dan ajang silaturahmi antarwarga.

Filosofi: Permainan ini melatih sportivitas, konsentrasi, dan kerja sama tim. Lambang segitiga pada logo juga sering dikaitkan dengan keseimbangan hidup.

Menerapkan Konsep 3R dalam Pengolahan Sampah
Kegiatan ini adalah implementasi nyata dari konsep 3R, yaitu strategi utama dalam pengelolaan sampah secara berkelanjutan:

Reuse (Penggunaan Kembali): Menggunakan kembali sampah yang masih layak pakai untuk fungsi yang sama atau fungsi lainnya. Contoh: Menggunakan potongan kayu sisa bangunan untuk dijadikan alat permainan.

Reduce (Mengurangi): Mengurangi potensi timbulan sampah. Dengan membuat mainan sendiri, siswa mengurangi keinginan untuk membeli mainan plastik baru yang berpotensi menjadi sampah di masa depan.

Recycle (Mendaur Ulang): Mengolah kembali sampah menjadi produk baru yang bermanfaat. Dalam konteks ini, limbah non-organik diolah secara kreatif menjadi alat edukasi budaya.

Melalui aksi kecil di MI Nurul Huda Mantuil ini, para siswa tidak hanya belajar sejarah nenek moyang mereka, tetapi juga menjadi pahlawan lingkungan bagi kota Banjarmasin yang kita cintai.

0 Komentar

Beri Komentar

Balasan